PANTOLOAN — Ratusan buruh bongkar muat PT Toloan menyatakan kesiapan untuk melakukan mogok kerja sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan masyarakat yang tergabung dalam Persatuan Masyarakat Pantoloan (PMP) untuk mempertahankan pelayanan kapal PELNI di Pelabuhan Pantoloan.
Sikap tersebut muncul dari kepedulian para buruh terhadap ketidakpastian kebijakan pemindahan layanan kapal PELNI dari Pelabuhan Pantoloan ke Pelabuhan Donggala. Mereka menilai hingga saat ini belum ada kejelasan yang pasti mengenai penyelesaian persoalan tersebut, sementara masyarakat dan para pekerja terus menunggu kepastian dari pemerintah.
Menurut para buruh, perjuangan mempertahankan kapal PELNI tetap bersandar di Pantoloan bukan hanya menjadi tanggung jawab PMP, melainkan kepentingan bersama yang harus diperjuangkan secara kolektif.
“Kami siap berjuang bersama. Kalau memang diperlukan, kami siap mogok kerja dan menjadi garda terdepan untuk mengawal perjuangan PMP. Kami melihat persoalan ini bukan hanya tentang kapal, tetapi juga tentang nasib saudara-saudara kami yang sampai hari ini masih menunggu kejelasan,” ungkap perwakilan buruh.
Mereka menegaskan bahwa tuntutan masyarakat sebenarnya sederhana, yakni meminta agar kapal PELNI tetap melayani penumpang melalui Pelabuhan Pantoloan. Mereka juga menolak jika perjuangan tersebut dipandang sebagai bentuk pertentangan antara Pantoloan dan Donggala.
“Kami tidak melawan daerah mana pun. Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya ingin kapal PELNI tetap di Pantoloan. Kami berharap pemerintah benar-benar hadir untuk rakyat dan tidak membiarkan masyarakat terus berada dalam ketidakpastian,” tegas mereka.
Bagi para buruh bongkar muat, persoalan ini menyangkut kepentingan masyarakat luas, termasuk para pekerja yang menggantungkan kehidupan ekonominya pada aktivitas pelabuhan. Karena itu, mereka menilai suara masyarakat dan buruh perlu didengar secara serius sebelum pemerintah mengambil keputusan lebih lanjut.
Pernyataan kesiapan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa dukungan terhadap perjuangan PMP datang dari kalangan pekerja pelabuhan yang menginginkan adanya penyelesaian yang jelas dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengevaluasi kebijakan pemindahan tersebut, memberikan kepastian mengenai trayek kapal PELNI, serta memastikan Pelabuhan Pantoloan tetap menjalankan fungsi pelayanan penumpang.
Bagi para buruh, yang diperjuangkan bukan pertentangan antardaerah, melainkan kepastian kebijakan, keberlangsungan pelayanan publik, dan kepentingan masyarakat yang selama ini bergantung pada Pelabuhan Pantoloan.

